Hujan turun rintik-rintik
Membawa rindu yang perlahan menitik
Jatuh perlahan, menetes, dari daun-daun bunga liar.
Mengantar kenangan, yang semakin meliar.
Hujan turun satu persatu
Membasahi setapak berbatu
Kita pun pernah jalan satu-satu
Ya, tangan kuta menyatu
Hujan turun semakin deras
Kutatap dari jendela, dengan mata yang mulai malas
Bukan tubuh yang mulai lemas
Tapi hati yang sesekali memelas.
Hujan turun menemani secangkir kopi
Lalu lalang beberapa cerita dan mimpi
Beberapa mencoba untuk menepi
Ini aku, duduk diantara belasan orang, sepi
Hujan turun. di seberang, seorang tua dengan kaki telanjang
Berjingkrak-jingkrak, namun senyum tak lepas dari pandang
Ah, secangkir kopi kuseruput perlahan
Namun bagi rindu, dijadikannya lahan.
Sejenak, Hujan turun jadi gerimis
Di depanku, gadis kecil tersenyum manis
Tak kaku, tangannya menarikan tarian agar hujan mengekal
Kutatap lamat-lamat, dia, diotakku sudah kekal.
Hujan sudah tak mau turun,
Aku beranjak dari peristirahan khayal
Ikut menari tarian pemanggil hujan, tak ayal.
Lalu awan menghitam, ku ulang lagi sajak hujan turun.