Ada puisi yang lahir dari senyum manismu
Besar dan beranak pinak di kepalaku.

Ada pula puisi yang muncul dari jemari lentikmu
Lalu tertoreh di ingatanku, namamu.

Di sini hujan, deras sekali.
Seperti derasnya saat kita diguyur hujan, itu hari.

Di sini, hujan, angin, dan kepala yang keras
Mengingatmu tak hanya sesaat, di kepalaku, deras.

Lalu, masih deraskah hujan di kotamu?
Masih adakah aku di dalam kepalamu?

Aku ingin menulis puisi
Tapi setiap puisiku itu tentangmu

Lalu kita bisa apa?

Begini sajalah kita
Diam dengan ribut-ribut di kepala
Serupa bumi yang diam kala angin sedang  riuh-riuhnya.

Begini sajalah kita
Diam, tak ada suara
Bila temu tak kunjung tiba di depan pintu, kita diam sajalah.

Lebih baik begini saja
Agar tak ada yang terluka lebih dalam
Aku, pun kamu.

Kepada yang pergi
Merelakan kepergian bukan perkara ringan
Bukan perkara membalikkan tangan dan 
Memperlihatkan telapak tangan yang kosong ke penonton
Bukan pula sekedar melihat punggung seseorang yang pergi, 
Entah ke mana dia.

Kita diajarkan untuk merelakan kepergian
Tapi kita tak pernah diajar 
Bahwa sebelum merelakan kepergian seseorang, 
Tubuh kita harus penuh luka cambuk dulu
Kita tak pernah diajarkan bahwa luka itu kemudian akan menganga begitu lebar, 
Hingga harus butuh jahitan lagi.

Maka ketika kita diajar 
Bahwa kepergian itu butuh menghilangkan keseluruhan rasa pada masa lalu, 
Beberapa dari kita tumbang dari pijakan,
Beberapa tenggelam ke dalam bumi dan tak bisa kembali menghirup udara.

Lalu setelah merelakan kepergian,
Kita pula harus diajar melupakan?

Followers

Total Pageviews