Ingin kuurai rindu ini padamu wahai hujan
Tapi mati malah menjadi pasti di sudut pelangi
Seperti senapan yang tertancap di satu nisan lama

Mungkin jelas kenangan tentang warna biru
Ketika jingga dan abu-abu harus jadi satu di lembayung
Sedang merah harus terdampar di awan yang terlalu berjarak

Mungkin kenangan harus mati di dalam kotak kayu
Lalu membusuk, esok jadi layu, kemudian hilang
Menjadi makanan bumi yang lapar akan kita

Sedang kayu-kayu yang terdampar disisi makam
Harus rela berdempet dan mematung tanpa ingatan
Tentang rindu embun tiap pagi yang lembut

Mari, sejenak terbang diantara melati, lalu mati
Esok, aku ingin menyatu dengan bumi dan kayu-kayu makam
Rinduku pada hujan mulai pudar, jadi bayang, jadi khayal
Ada angin yang tertambat di tali-tali jemuran
Menunggu matahari menguapkan embun
Yang tertahan di sela-sela daun basah

Ilalang bersemedi di ujung suatu gunung
Sendiri, hanya beberapa batu yang diam sekeliling
Sambil menunggu hujan reda di suatu sore

Seperti kita yang tertegun memandang senja yang tak usai
Seperti malam yang menunggu datangnya pagi yang ingkar janji
Seperti angin yang terus menari, diatas nisan yang kita sebut harapan

Lalu dingin menyergap sendiriku di taman basah penuh ilalang bersemedi
Lalu kelam menelan beberapa botol racun, hingga tersisa mulut busuk
Lalu kita kembali tertegun, menatap angin yang bingung
Yang tersesat diantara tali-tali jemuran
Kau datang dalam bayang-bayang senja,
Jadi hujan yang terus aku puja
Kelak, saat rindu mulai merambat cepat dari nadi
Ku terawang awan, mungkin hujan sedang bersembunyi

Malam jatuh ditelapak kaki perempuan malam
Jadi jejak tertinggal diantara rumput basah,
Entah, mungkin kenanganmu tertinggal di satu embun
Di satu titik pagi, saat camar dan pipit bertengger disatu telinga alam

Malam terus melarut dalam gelap, kelam
Kantuk menyambar dari balik bulan kusam
Mungkin, kau datang dari balik gelap dan tersenyum
Di satu lelap tak sadarku, disatu terang yang suram

Tak perlu kujabarkan lagi rindu tentang hujan padamu
Kau datang setelah hujan reda jadi langit putih
Kau berdiam di satu samudera yang tak bisa kujamah
Disatu panas dan dingin alam, kau kelak akan jadi perempuan hujan lagi
Enam tetes darah mengalir pelan dari nadiku
Berenang dengan bebas dan menghirup udara

Tetes pertama tanpa warna, tanpa rasa, bening
Mengalir kearah telingaku dan menatap bulan

Tetes kedua mengecil tersenyum manja pada nadi
yang telah ia tinggalkan dan mengembara bebas, lalu terjatuh diatas abu jalan

Tetes berikutnya begitu merah, seperti darah naga terbang
Ia bersembunyi dalam kata, dan  hilang di tepi danau

Lalu tetes selanjutnya jadi gelap, lalu berubah jadi api terbang
Aku tak begitu lihai menatapnya, dia hilang begitu saja

Tetes selanjutnya menetes dikegelapan, saat para nokturnal mulai terbangun
Aku tak tahu pasti, dia hilang atau kembali ke dalam mataku

Tetes terakhir serupa racun, meng-ungu, menetes diatas telapak tanganku
Tapi segera aku jilat agar kembali kehatiku.

Urat dinadiku lalu sembuh, menyatu tanpa bekas luka
I should try to call you once
When I still had time in my life
Seeing you gone like wind
Like a breeze in my body's parts

You have been good to me
I give you love and you give me smile
Like when we back in time
A memory in January

When it comes to my mind
When you hug me behind my ride
I give you my love
You give me goodbyes

I will be back to January
When time of us is a victory
But in time, it just a memory
A memory of January

"A sad song and goodbye were played and then we both fall in tears"

Followers

Total Pageviews