Seteleh hujan lelah berderai di tengah kolam
Akan bergaris pelangi enam warna yang terus memuja
Setelah angin berhenti berkejaran diantara rambutmu
Akan tertinggal sejuk yang bersemayam dianganmu

Setelah rindu memadam di unggun yang mulai melemah
Akan datang bara yang menghangatkan dingin yang tertinggal
Rasa bersama yang tak pernah puas dihabiskan diantara hujan
Akan terus menjadi penghangat malam sebelum ku tidur
Naas bagi sepi, yang tak pernah sempat mengunjungi kita
Gadis kecil, kutunggu kau disini, bersama rindu yang tak pernah puas
Hanya perlu hitungan menit untuk menemukanmu di jejak mimpi
Aku akan menunggumu dengan sisa warna pelangi
Entah, mungkin sampai nanti, sampai kau jadi nyata jadi pelukan tidurku

“Maaf pelangi, warna terakhirnya jadi makhluk terindah dibumi”
Khawatir pada hujan yang terus marah
Mungkin tak henti bila disini terus diam

Berkali-kali hujan marah pada rintik
Yang selalu saja tak pernah jatuh di atap rumahmu

Sempat juga hujan datang bercerita
tentang langit yang terus rindu pada kita

Kapankah kita bisa jadi angin,
lalu bersama terbang, tak terhalang

Kapankah kita jadi air,
Lalu bersembunyi, dari kenangan yang penuh luka

Masih tetap berdegup, khawatir
Mungkin kau sudah tak mau jadi angin dan hujan
Kita bertemu disatu masa yang aneh
Saat awan membentuk kelinci putih
Langit memerah disatu sudut
Matahari siap bertemu mimpi

Kau berbaring menunggu mendung
Menatap rintik yang siap berlomba sampai dibumi
Kutatap kau dengan senyum yang kusembunyikan dengan scarf biru
Warna kesukaanmu, warna yang mulai kusuka

“aku mencintai hujan, dengan setiap tetes yang tak bisa kupahami”
Aku diam, kutatap matamu, ada biru yang sering kulihat
“aku mencintai hujan, dengan setiap rindu yang tak bisa kupahami”
Lalu senyum, seperti rindu yang semakin meliat

Kulihat kau lagi disatu masa yang aneh
Bersembunyi dibalik senyum yang semakin aneh
Kau tatap aku, tatapan mistis dari mata paling mistis
Lalu aku jatuh cinta pada hujan, kemudian pada matamu
Terbangun diranjang penuh darah
Kau terkapar tanpa sadar
Beberapa luka guratan masa lalu masih jelas di dekat nadimu
Nafas terakhir kau lepas dengan desah, lalu mati

Subuh tadi kau masih tersenyum, menatap jam yang angkuh
Lalu berlari keluar, hujan mengiringimu, kau masih tersenyum
Kau hilang dalam mataku, terus berlari,

Lalu hujan berhenti, awan perlahan hilang
Kau datang dengan kuyup sekujur tubuh
Air mata diam-diam bersarang dimatamu
Kau diam, tanpa kata kau masuk kamar, lalu tertidur

Siang tadi kau terbangun dengan senyum,
Hujan menari-nari diatap, kau keluar, menari bersama
Lalu hilang, tanpa bayang yang bisa aku lihat

Lalu matahari meraja, kaupun kembali
Juga dengan tangis, hujan rintik di rumah yang lain
Lalu kau berlalu ke kamar, tertidur pulas
Dengan luka goresan dari pisau hujan
Aku hanya sepi yang tak mau kau jabarkan
Aku hanya sendiri yang tak ingin bertemu ruang
Jika kerinduan hujan masih tak bisa menetes disisiku
Maka sendiri hanya akan jadi bayang yang tak menentu

Aku hanya kenangan dari ribuan luka yang tak bisa sembuh
Aku hanya rindu yang tak pernah bisa lepas dari guratan lalu
Jika saja mimpi tak pernah buyar,
Jika saja aku bisa bertemu pengatur waktu

Jika saja hujan tetap rintik di daun yang aku tanam
Jika saja hujan tak menolak perintah awan
Mungkin pekarangan rumahku sudah kutanami dirimu

Followers

Total Pageviews