seperti lelap yang aku bawa saat mulai memejamkan mataku yang sudah lelah pada dunia yang semakin lama semakin panas ini.
seperti angin timur yang sepoi datang menyapu satu persatu rambutku yang tak lurus dan membelainya lembut 
seperti ombak yang saling memburu diantara genangan air laut biru
seperti dinginnya malam yang setiap hari aku tunggu untuk membuyarkan lelahku yang sudah menumpuk di lengan kiriku

seperti itu....
seperti itu....
seperti menunggu dia yang tak bisa disebut namanya ....
masih dan akan terus seperti itu

Ingin bercerita tentang kehangatan,
berdoa semoga hari ini alam tersenyum melihat manusia
Kukabarkan kisah-kisah kemarin yang sempat aku rekam dalam otakku

Kemarin,
mahasiswa tawuran
katanya
memakai dana pemberian fakultas

Kemarin,
seorang dosen mengobrak-abrik kantor pendidikan
katanya,
ada nomor soal yang hilang

Kemarin,
Kita berjanji untuk bertemu di sebuah tempat makan, tapi tak jadi
katanya,
kau harus cepat pulang, tak ingin telat sampai dirumah.

Diusapnya air langit yang menutupi matanya
di bawah hujan dia berdiri
ingin lari dari dunia yang semakin menggila

dia berteriak ke langit
guntur lalu saling bersahut
diusap lagi tetes hujan di wajahnya
kali ini ada sedikit rasa asin yang ikut

hujan semakin menderas,
suara-suara dunia melenyap
hanya irama hujan yang menetes
kota yang ia kenal kini senyap

dia berlari menembus hujan
di depannya seorang lelaki tersenyum membuka lebar tangannya
pelukan lama yang tak dia rasa
pelukan lama yang ingin dia rasa
"Aku tak tahu bagaimana menjalani hidup"

Lelaki di depannya tersenyum
lalu berbalik arah
hujan mulai mereda
sang perempuan sudah siap lagi berlakon sebuah cerita

"Dibawah hujan, dia adalah dirinya sendiri"
"Beneath the rain, she is herself"

Kita tersenyum disebuah pagi
Dimana burung kenari bersenandung di jendela kamar
Resah yang semalam sudah tak ada lagi
Resah diingatan sudah tersamar

Sinar matahari menyentuh kulit wajahmu yang menawan
Seketika kau sambut dengan senyum yang rupawan

Semalam adalah ikrar yang tak main-main
Rahasia kita sudah teraduk, dengan baik diramu
Sudah sah perhelatan kemarin
Saat kurebut kau dari pelukan ayahmu

Diluar purnama agak malu-malu 
hanya berani mengintip dari balik gunung Lawu,
aku hanya berani meringkuk di dalam kantung tidur yang lumayan tebal.
Menatap ringkuk pepohonan yang tak kekal

Sekelebat cepat di depan mataku, bayangan yang sudah akrab bagiku.
Lolongan panjang menyeruak,
diujung sebuah tebing,
memohon pada bulan bersanding awan yang berarak
lalu menghilang

Dari balik pohon Albizia saman, dia bersembunyi,
Perlahan, mengendap dalam sunyi.
Dia menatapku, dia mengenaliku,

Tahun ketiga aku disini di dalam tenda sewarna langit
Tahun ketiga dia sembunyi dibalik pohon itu, mengintipku lamat-lamat
Tahun ketiga dia menghilang saat aku terlena
Tahun ketiga dia berubah menjadi serigala betina

Followers

Total Pageviews