Mungkin saja kenangan tentangmu yang begitu kuat, mungkin juga raut wajahmu sudah mulai samar di ingatanku. Aku tak tahu pasti. Tetap saja ingatan tentang kebersamaan kita selalu melabilkan emosiku untuk sesaat.

Semalam tak ada hujan. Dingin yang kutunggu tak datang mengetuk relung hatiku. Kutatap malam, bintang yang biasanya ada menghilang, entah kemana, mungkin dia terlihat dikotamu. Iya, bintang yang aku lihat kadang juga tak muncul di kotamu, kita hidup di dua langit yang  berbeda.


Tak pernah sengaja menulis kata “saya” dan “aku”, atau mungkin saja tubuhku menyuruh otakku untuk perlahan menjauhkan kita, menjauhkan aroma yang tertinggal di hidung, menghilangkan nama yang selalu menggema di telinga. Merabunkan bayang dirimu yang tertinggal di depan mata.

Entahlah.

Aku tak tahu pasti kita berada dimana sekarang.

“Mungkinkah nanti nisan kita berdampingan?”

Lelaki yang mulai terdiam
[PH]

Kepada Perempuan , yang begitu rindu pada dada kiriku.

Masih saja kita bergelut dengan kenangan yang sudah kita lewati beberapa waktu lalu, dan kenangannya begitu nyata sampai sekarang. Dalam sadar, bahkan dalam lelap.

Handphone sengaja kutaruh di dekat kepalaku, menunggu deringan dari nomor yang tak kuketahui, siapa tahu itu dari kamu. Maaf, nomormu dulu tak sengaja terhapus saat emosi begitu meluap dan aku tak bisa mengingatnya lagi.

Hujan semalam begitu dingin, kehangatan yang biasa digenggaman menghilang begitu saja. Tanganku masih mengingat genggamanmu, yang kadang dengan sigap menggenggam, walau disitu tanganmu sudah tak sedia.

“Musik adalah mesin waktu yang sangat sederhana” katamu, dan kini aku sedang berada di masa lalu, dan kebersamaan kita terulang di depan mata, adakah waktu kembali seperti sedia kala?

Oh iya, Lagu mesin penenun hujan selalu kita hentikan saat sudah sampai dibagian reffnya, dan mengulang kembali dari awal. Entahlah.

Sedang Payung Teduh selalu tersedia di playlistku. Ketika aku ingin mengingatmu, dan itu disegala waktu.

“Disegala ruang ada dirimu, di segala waktu, ada aromamu, dan disegala sudut ada bayanganmu”

Maaf, kali ini suratku singkat, ada urusan kantor yang harus aku kerja.

Lelaki yang masih berteduh di bawah teriknya rindu
[PH]



Ketika kutulis surat ini, diluar lagi hujan, mungkin kaupun sedang terbangun di Medan sana. Iramanya tentang kenangan kita berdua, di sebuah masa yang telah hilang.

Masihkah kau tertegun menatap setiap tetes hujan jatuh dari sudut atap rumah sambil menyanyikan lagu Mesin Penenun Hujan-nya Frau?

Atau kau sudah memilih tertidur ketika hujan datang mengembara dalam mimpi?

Semalam saya bertemu teman lama, dia menanyakan tentang kabarmu, kujawab, “Dia masih disini” sambil menunjuk dadaku.

Untuk mengenangmu, kutulis lirik kesukaanmu
Tetapi esok nanti, kau akan tersadar, kan  temukan seorang yang lebih baik,
Dan aku kan hilang ‘kukan jadi hujan, tapi takkan lama ‘kukan jadi awan

Kali ini aku ingin jadi hujan, terbang bebas menuju kotamu dan jatuh melepaskan rindu di atap rumahmu, menghapus setiap tetes air mata yang kau jatuhkan  dan memelukmu dengan hangat yang hanya bisa rasakan berdua.

Ketika kau kemarin bercerita tentang Pulau Lae-Lae, kemarin aku sempatkan kesana, dan tulisan nama kita masih begitu jelas disebuah pohon yang entah apa namanya, kita hanya menyebutnya pohon penahan hujan.
Memang tak ada alasan baku untuk mencinta, tapi bagiku,tapi bisakan cinta menjadi alasan itu sendiri?

“Cinta adalah ketika kita bersama dalam kebisuan, dan kita tetap merasa begitu nyaman”

Lelaki yang berharap menjadi Hujan,
[PH] 

Kepada Dirimu, yang masih mencintai hujan

Mata yang kau jaga agar tak berembun, biarlah diseka waktu, sayapun tak bisa berada disana. Biarlah tangis yang kau tahan di dengar oleh langit, agar awan menurunkan hujan yang selalu kau cinta.

Kemarin aku sempatkan diri berjalan di pantai losari, dan maaf, matakupun terasa perih, tapi tak ada air mata, aku sudah mencoba bertahan dan kuat atas kepergianmu, tapi kenangan tentang dirimu selalu saja mengantarku ke tempat itu.

Kapan rindu bisa kita tuai? Saat bibit yang kita semai dulu sudah mulai bersemi dan tak bisa lagi menunggu untuk kita nikmati, rindu itu akan terasa begitu indah di lidah kita, dan tawa akan terasa begitu indah, sayang.

“Karena rindu yang aku rasa, akan ku kenang sepanjang masa, dan bertahan pada satu asa”

Kau sempat hadir menyapa sebelum matahari membangunkanku, dan kecupanmu terbayang sampai saat ini.

[PH]

Kepada pecinta hujan,

Ada kata yang hanya bisa diam, bersembunyi di balik awan yang kau tatap. Karena jumpa adalah pisah yang selalu kita tunda, mungkin saat kita sudah tak bisa menyeka air mata yang jatuh.

Tak perduli ada pisah, tak perduli ada jumpa. Kita bersama, sambil mengingat eratnya genggaman yang semakin melemah.
Ada cinta, yang kita pahami dengan sedikit keegoisan, dan kau rindu yang tak bisa kupuaskan.

Kau akan kutunggu, di sebuah senja dimana kita pernah duduk dan menikmati sapaan matahari dan hujan gerimis disaat bersamaan, di sebuah pantai yang rindu hadirmu.

“Untuk cinta yang tak pernah habis, karena setiap pelukan tak pernah puas melepas rindu”

Dan rindu yang aku tahan akan berujung di satu titik, dirimu.

Yang tak bi(a)sa melupakanmu
[PH]

Followers

Total Pageviews