Ada tangis yang tak bisa kuceritakan padamu
tentang kepergianmu yang telah sekian lama

Lihat aku sekarang, bertarung dengan diriku sendiri
Hampir hancur melawan ego yang tak bisa kutahan
Menahan nafsu dunia yang semakin menggila di kepalaku

Malam ini, ingin mengenangmu lagi,
dengan sebuah lagu yang dulu kita nyanyikan bersama dengan tawa
dengan segelas teh dan beberapa penganan khas buatanmu,

Ibu, ingat ketika aku akan kabur dari rumah karena begitu marah padamu?
kau hanya tersenyum dan mengusap kepalaku.

Ingat ketika aku tak ingin mandi karena air di kampung begitu dingin?
kau bangun begitu pagi hanya sekedar menanak air untuk menghangatkanku

Ingat ketika aku sakit dan berpura-pura menahan nafas?
Tangismu diam, seluruh kamar sunyi.

Ibu, bisakah kau datang sekali saja malam ini dalam mimpiku?
karena bayangmu sudah mulai rapuh diingatanku.

Semoga kau dengar doaku.

Cerita berawal dari janji mencicipi secangkir kopi
Disebuah kedai yang tak kau tau pasti

Baru pertama kutatap dirimu
Irama lagu The Beatles menyambutmu

Kau lalu bercerita tentang masa lalu
Tentang nama yang tak bisa diberi restu

Atau mungkin ketika kau begitu semangat membahas symbol dan agama
Atau ketika kau mengotak-atik telpon genggam untuk sebuah nama

Kau tuangkan puluhan cerita gila pada secangkir kopi susu hangat
Ketika egomu begitu kuasa, ketika rasa ingin tahu ingin kau puaskan.

Gadis pecinta malam, teruslah telisik setiap sudut gelap
Hingga cerita kelam, tak lagi datang mengendap


Terbayang lagi sebuah cerita yang sempat terlupa,
Tentang sebuah puisi yang bercerita tentang perpisahan,
Serta perempuan yang bercerita tentang hujan

Luka dan masa lalu, kuseruput baik-baik dalam segelas kaca
Di atas kopi itu tergambar wajahmu yang tersenyum
Sambil menggoyangkan tanganmu, diantara jemariku

Layar putih memutarkan kisah sedih sepasang kekasih
Kuambil sapu tangan, hanya untuk menghentikan alur sungai dari mata air asin.

Satu kata yang sempat teringat,
Bahwa kenangan tidak untuk aku kubur,
Walau tentangmu yang paling berkuasa di kepala.
Telah lama ia pergi
Dibawa kisahnya sendiri
Namun oleh sejarah, masih juga namanya disebut
Karena semua masa punya sejarah

Ada detik berlalu serempak
Saat seruan "gol" membahana
Hendak mencapai angkasa

Tiada cinta yang begitu meriah
selain bergaung di stadiun
kau bisa tersenyum, terbahak
Sebelum akhirnya pulang, sebelum malam terlalu larut
dan saksi sejarah takkan melewatkanmu
sebab sekali ewako digemuruhkan
namamu ada juga menyelip dicelahnya.

Siapa yang tak mengingatmu
sungguhlah tak sejati jadi pembelamu
sebab sekali waktu terkenang juga akan sejarah
liuk kaki kananmu memukul mundur cina
menahan imbang soviet
di lapangan hijau

Siapa yang dapat melupakanmu
betapa gegap gempita menyesaki darah
dada yang hendak pecah oleh luapan bangga
jadi saksi perjuangan anak negeri, putra tanah daeng

Siapa yang dapat melupakanmu,
Siapa?

Genderang merah itu masih bergaung hingga kini
meski yang sampai padamu hanya semilir angin
getarkan rumputan hijau di atas pembaringan takdir
yang telah bermusim membekap
sosokmu melebur pada hakikat

Ramang,
Jazad boleh merapuh di bawah hujan, menjadi peninggalan zaman
namun namamu masih menjadi bara
bukti perjuangan bangsa, lambang sepakbola sulawesi
warisan nyata keberanian ewako

Hijau karebosi,
tetap ada bayangmu disana
menurunkan semangat, menelurkan generasi

Bola-bola masih saja berpindah
dari masa ke masa
meneruskan aliran semangat dan cintamu
pada mereka yang terus berbangga

Pada mereka,
pada kami
pasukanmu
pasukan Ramang

Ewako, ewako, ewako.

Antologi Puisi
Syair dan Kicau Burung. (Cinta, Kasih, Benci, Rindu & Semangat Hidup tertuang dalam syair puisi yang indah....)
1. @JangkrikSenja
2. @cokko2_
3. @jejaksajak
4. @penikmatrindu
5. @PriaHujan
6. @Ridawa_s
7. @xFaisal_fajreEx
8. @Milachaem
9. @Bait_Puisi
10. @anitmarina
11.@Ichi_nOe
12. @Rintik_
13. @HeningWicara
14. @ibulusi

Followers

Total Pageviews