“Di mana dirimu sekarang?”
“Apa kau baik-baik saja?”

Kata-kata yang selalu ingin aku ucapkan ketika kita bertemu
Kata-kata yang tertahan di dalam kepalaku, dan tak ingin keluar

Tak ada, tak di sini.

Tak ada yang menggantikanmu,
Tak ada yang mau menggantikanmu,
Tak ada yang berusaha menggantikanmu,
Tak ada yang bisa menggantikanmu


Di kepalaku, masih tak bisa menelaah kata-kata yang kau ucapkan.
Kata “Hati-hati” dan “Jaga dirimu baik-baik”
Perpisahan memang tak pernah baik-baik, bukan?

Hari ini, kau datang ketika aku hampir saja melupakanmu.
Berkali-kali seperti ini.
Aku hampir lupa, kau datang dengan caramu sendiri, aku mengingatmu, lalu kau menghilang lagi
Kau, tak pernah membiarkanku lupa padamu.
Selamat,
Sekali lagi selamat atas kesuksesanmu.
Karena membuatku tak tertidur lagi malam ini.

Selamat,
Kepada diri sendiri,
Karena mencatut catatan-catatan luka lalu.

Selamat.
Aku salut padamu,
Kelak nanti suratku kuberanikan kukirim.
Atau malah kukaramkan di atas karang lautan.

Sekali lagi,
Selamat, senyummu yang senyap merunyamkan tidur malamku.

Selamat.
Hujan,
Ketika agustus sudah mulai berakhir
Ketika kemarau masih begitu jaya di musim ini

Tetes hujan membelai seluruh tubuh
Tak berpaling, motorku melaju pelan
Agar hujan bisa dengan santai membelai

Tetes hujan masuk bersembunyi dalam mata
Lalu pelangi begitu terang di langit
Hujan perlahan tertinggal di langit

Kupercepat sedikit laju motor,
Ketika mengingat sesosok gadis sedang menunggu
Sebuah janji yang dicipta semalam

Setelah mengganti baju seperti yang pernah sang gadis suka
Motor kembali laju, terarah menuju sebuah warung kopi
Tak sabar menemui dirimu, gadis.

Ini janji yang berat sebelah
Pertemuan yang hanya aku yang tahu maksudnya

Lalu aku menatap matamu, gadis.
Tersimpan kenangan lalu,
Ingin ku kecup matamu.

Kau bercerita tentang duka yang tak kau tahu musababnya
Aku mendengar tanpa tau penyebabnya.

Perlahan lagu tentang pecinta hujan yang tak ingin sang hujan marah
Melantun indah,
Katamu, itu lagu yang  tentang kita.

Kau memesan es teh seperti biasa,
Aku memesan cinta yang biasa.
Iya, pesananku tak tersedia.

Kutatap bibirmu,
menyeruput teh begitu sigap
ketika matahari sudah siap bersembunyi

Ini pertemuan untuk yang terakhir kalinya
Aku menggumam.

Lalu tiba saatnya kita berpisah,
aku beranjak lebih dulu,
Di mataku sempat berembun

Kemudian kau mendahuluiku
Aku menatapmu sembunyi
Di pipiku sudah menadah hujan rintik.

Ini pertemuan terakhir kita
Ini janji yang berat sebelah.
Tanpa harus kau tahu.
kosong,
isi dalam pikiranku tak sedang memikirkan apa-apa

Ingin menuliskah?
entah, hanya saja untuk menuangkan isi pikiran, 
harus ada yang aku pikirkan,

hampa
tahu ketika seluruhnya begitu tenang, malah yang paling menggelisahkan?

sudah aku putar lagu yang biasa aku nikmati, 
sambil mencicipi kopi sachet yang siang tadi sempat aku beli.
sisa setengah.

padahal angin di luar begitu ributnya,
atap rumah saling bergesakan,
iramanya tak karuan.
berisik.

apa yang isi kepalaku inginkan?
Di sebuah kedai biru, aku menunggu,
Diam, termangu, tertunduk.
Menunggu waktu, senja siap tertutup malam.
Ada waktu, kusesap kopi hangat yang terjaga di depanku.

Dua gelas kopi, satu kenangan mengimani.
Menikmati kopi, menyegarkan kenangan.
Tentang senja, tentang warna yang yang di indahkan dalam ruang.
Lalu tentang dirimu, perempuan yang jatuh cinta pada kopi

Menunggu, tak selamanya berakhir temu.
Serupa menunggu yang tak mungkin disini.
Dirimu, hilang.
Diriku, ikut.

Followers

Total Pageviews